KODE-4

Thursday, March 1, 2007

Islamidar

Maestro Musik Tradisi Minang

Nama: Islamidar

Tempat dan Tanggal Lahir: Nagari Talang Maua, Kecamatan Mungka, Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatra Barat, 16 Juli 1941
Pekerjaan: Penjaga sekolah dasar yang difungsikan sebagai kesenian
Pendidikan: Sekolah Rakyat



Karya dan Pengalaman Seni

: Di Indonesia misalnya, di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) beberapa kali, di Taman Ismail Marzuki (TIM) beberapa kali, dan di Surabaya.

Di luar negeri, misalnya di Malaysia 9 (sembilan) kali, di Eropa 5 kali: Belanda, Yunani, Jerman, dan Spanyol. Di Asia selain Malaysia, pernah tampil Brunei, Singapura, dan Jepang.

Suaranya merintih lirih namun merdu kala melantunkan syair/ lagu dendang sampelong yang diiringi saluang bansi yang mengalun. Dialah Islamidar yang akrab disapa Tuen oleh penduduk kampung sekitar. Tuen lahir pada 16 Juli 1941 di Nagari Talang Maua, Kecamatan Mungka, Kabupaten Lima Puluh Kota. Di nagari itu pula ia tinggal hingga hari ini. Tuen adalah pewaris dan penjaga seni sampelong, salah satu seni tradisi Minang yang masih eksis sampai saat ini. Sejarah hidup Tuen identik dengan perkembangan sampelong itu sendiri.

Tuen memang berasal dari keluarga yang berdarah seni. Ibunya adalah pelantun dendang sampelong yang juga pandai memainkan gendang. Sedang sang ayah adalah seorang qari yang mahir membaca ayat-ayat suci Al-Quran dengan irama yang enak di telinga. Kakeknya adalah seorang pemain gambus. Begitu pula etek dan mamaknya.

Irama sampelong adalah irama yang dimainkan dengan saluang sejenis bansi. Dulunya, sampelong adalah sejenis irama musik yang dinyanyikan pada saat menggampo gambir. Saat itu sampelong tak pakai dendang. Kalaupun ada dendang berirama sampelong, tapi musik pengiringnya adalah talempong. Baru sejak tahun 1965, sampelong pakai dendang. Syair/lagu dendang sampelong lebih banyak berkisah tentang kepahitan hidup, keperihan nasib, kegagalan cinta, kemiskinan dan segala kenestapaan lainnya. Lirik-lirik sampelong adalah elegi: nasi dimakan serasa sekam, air diminum serasa duri.

Sampelong, sebagaimana dituturkan Tuen sudah ada di Minangkabau sebelum kedatangan Islam ke ranah ini. Nada sampelong adalah nada-nada lagu Budha. Ini dibuktikan dengan kesamaannya dengan nada yang ada di Thailand—sebuah bangsa yang kebudayaan dan seninya berakar pada agama Budha dan juga di Palembang—daerah yang pernah menjadi tempat berkembangnya agama Budha.

Sampelong berbeda dengan basirompak, baik alat yang yang digunakan maupun lagu yang dimainkan. Basirompak dimainkan dengan saluang biasa dengan syair lagu-lagu dendang yang berupa mantra-mantra jahat yang dulunya merupakan alat penyampai guna-guna. Namun sekarang, kata Tuen, basirompak juga bisa dialihkan ke seni yang bernilai baik dan enak didengar.

Sejak kecil, Tuen sudah akrab dengan musik tradisi Minang. Pada usia enam tahun ia sudah diajarkan oleh neneknya memainkan talempong. Hingga dewasa, Tuen tak hanya trampil memainkan talempong (talempong pacik) dan berdendang sampelong, tapi ia juga mampu memainkan akordeon dan pianika. Di samping itu, ia juga bisa memainkan seni musik dikia (seni musik Islam). Tak ketinggalan, Tuen juga bisa berdendang basijobang—sejenis dendang yang diiringi musik yang bersumber dari hentakan kotak korek api yang berkisah tentang Anggun Nan Tongga dan Putri Gondoriah. Menurut Tuen, sebutan Basijobang berasal dari gelar Anggun Nan Tungga yaitu Magek Jabang (jadilah Basijobang).

Tuen, sang maestro seni musik tradisi ini berumah tangga pada tahun 1969. Hingga sekarang ia mempunyai lima orang anak—yang salah seorang dari putranya juga meneruskan bakat seni yang diwariskannya. Sebagai seorang seniman, sejak tahun 1970-an Tuen sudah sering tampil di acara-acara resepsi pernikahan atau baralek. Ia mulai tampil ke publik yang lebih luas pertama kali pada acara Pekan Budaya Minang di Payakumbuh. Sejak itu, berbagai pentas seni budaya sering ia ikuti. Sejak beberapa tahun belakangan, di setiap Selasa malam dan Sabtu malam, ia tampil di Bukittinggi.

Kesungguhan dan kepiawaian dalam berkesenian mendapatkan perhatian dari pemerintah. Ia diminta mengajar di sekolah dasar di kampungnya. Namun karena hanya berijazah Sekolah Rakyat (sekolah dasar), Tuen resminya hanya diangkat sebagai pegawai penjaga sekolah, namun fungsinya adalah sebagai seorang guru. Di SD Negeri 02 Talang Maua, Tuen mengajar kesenian sampai saat ini. Namun ternyata, karena kemampuannya—Tuen jadinya tak hanya mengajarkan kesenian, tapi juga mengajar matematika dan pendidikan agama. Untuk materi pendidikan agama, Tuen menciptakan lagu-lagu yang berisikan kisah-kisah kehidupan para rasul dan nabi. Ia juga menciptakan lagu tentang Rukun Islam dan Rukun Iman. Lagu-lagu yang berisikan pendidikan agama untuk sekolah dasar ini sudah ada yang diproduksi dalam bentuk kaset rekaman.

Hari-hari Tuen dIjalani dengan penuh kesibukan. Bangun setiap subuh. Usai salat ia membuka kedai dan kemudian bersiap untuk berangkat mengajar ke sekolah pada jam tujuh pagi. Setelah pulang dari sekolah sekitar jam 13.30, Tuen menghabiskan waktunya duduk di kedai miliknya sampai jam 10.00 malam. Di samping melayani pembeli, Tuen mengisi waktu dengan memeriksa tugas-tugas sekolah murid-muridnya. Di saat-saat itu pula Tuen menciptakan lagu sambil terus mendendangkannya. Pada setiap Jumat malam, Tuen berlatih dengan kelompoknya untuk persiapan tampil di Bukittinggi besok harinya. Selesai salat Ashar setiap Selasa dan Sabtu, Tuen bersiap untuk berangkat ke Bukittinggi. Sering ia hanya berjalan kaki sejauh delapan kilometer sampai ke Mungka, dari sini baru ia naik bus menuju Bukittinggi

Di samping mampu berdendang dan memainkan alat musik, Tuen juga mempunyai kemampuan sebagai seorang akademisi. Ia bisa menciptakan lagu disertai not balok. Penglihatannya yang sudah terganggu sejak usia muda tak menghalanginya untuk mencipta. Layaknya seorang seniman sejati yang juga punya talenta sebagai akademisi, Tuen memiliki pengalaman, pemahaman dan pengetahuan yang kaya tentang seni tradisi. Ia layak menjadi narasumber yang tak pernah kering untuk digali.

Sebagai seorang seniman yang bertalenta akademisi, Tuen juga menyampaikan kritik yang cukup tajam terhadap perguruan tinggi seni. Ia menilai, seni musik tradisi hampir tak berkembang di perguruan tinggi seni, lebih sering hanya memainkan lagu itu ke itu saja. Ia mencontohkan permainan talempong, hanya berputar pada Cak Din-din dan Tigo Duo. Ia juga menyayangkan, anak-anak muda kini yang enggan untuk meneruskan seni tradisi yang berakar dari negeri ini sendiri.

Begitulah seorang Tuen, hidupnya terus mengalir, ia berkarya tak pernah henti. Sejarah menakdirkannya sebagai seorang seniman sejati, pewaris, penjaga dan pelestari seni tradisi.


Transkripsi hasil wawancara dengan Bapak Islamidar
Pada 4 Mei 2002 di Padang Jopang,
Kabupaten Limo Puluh Kota , Sumatra Barat

Bermusik seperti Mencintai Manusia

Wawancara dengan Islamidar dilakukan oleh Yusriwal, salah seorang staf pangajar Fakultas Sastra Universitas Andalas (kini Yusriwal telah berpulang kerahmatullah pada 16 Januari 2005 akibat kecelakaan). Berikut wawancara itu.

Bagaimana Bapak belajar sampelong?

Tidak sengaja diturunkan. Cuma, karena sudah umum semua orang tua-tua pandai memankan alat musik sampelong, dengan sendirinya kita bisa saja. Asal ada bakat, bisa pandai. Waktu kecil, saya dininabobokan, dibuai oleh ibu dengan lagu seperti itu (lagu-lagu berirama sampelong—red):

lolok lah sayang (tidur lah sayang)

lolok lah lolok (tidur lah tidur)

(Islamidar menyayikannya)

Saya dibesarkan dengan dendangan seperti itu. Hal itu betul-betul meresap dalam jiwa, sehingga tidak perlu dipelajari secara khusus.

Selain lagu-lagu, Bapak juga membawakan kaba dengan alat musik sampelong, bagaimana cara belajarnya?

Hanya dengan mendengar saja. Dengarkan tukang kaba bercerita, kita cobakan. Artrinya, tidak disengaja berguru atau belajar.

Kalau ada anak muda yang ingin belajar, bagaimana prosesnya sampai mahir memainkan sampelong?

Begitu juga. Dicoba saja. Jika urang tua, mereka diminta mendengarkan dam memberi kritikan. Seprti itu, tidak diajar khusus. Dicoba, ditanyakan ke orang tua: “sudah bagus atau belum.”

Dulu, sampelong berkaitan dengan unsur magis. Kalau ada yang ingin melihat, bisa Bapak tampilkan?

Tidak bisa. Sebab, untuk meaminkannya harus dalam sebuah tim: seorang tukang sampelong, tukang dendang, tukang gasiang (gasing), dan seorang yang memerankan sesuai dengan efek yang diinginkan. Jika pemeran merobek baju, yang dituju akan merobek baju pula. Begitu seterusnya.

Seperti apa syair-syair yang digunakan untuk sampelong magis?

Karena tak pernah lagi dimainkan, sudah banyak yang lupa. Pokoknya syair tersebut ditujukan ke seseorang:

kok lolok tolong jagoan (kalau tertidur tolong bangunkan)

kok jago suruah ka iko (kalau bangun suruh ke sini)

suruah…(suruh…)

Ada irama khusus Pak?

Iyo, umbuik mudo.

Selama Bapak main sampelong, pernahkan Bapak menggunakan unsur magis tersebut?

Tidak, sebab haram hukumnya. Hal itu pula yang menyebabkan kesenian ini dilarang oleh para ulama. Kini, karena usur magis itu sudah dihilangkan, tidak dilarang lagi.

Bapak tidak belajar secara khusus?

Tidak, tapi diwariskan secara alamiah. Mereka yang mau belajar akan pandai, yang tidak mau tidak akan pandai.

Proses pembuatan sampelong melalui cara-cara dan tahapan-tahapan tertentu. Talang yang digunakan harus yang tumbuh di tempat sakral dan lain sebagainya. Kalau sekadar belajar, apakah harus mengikuti cara dan tahapan tertentu tersebut?

Tidak. Sampelong ada dua macam: khusus untuk guna-guna dan sebagai alat tiup biasa. Kalau untuk yang kedua, tidak dperlukan tata cara tahapan tertentu tersebut. Bisa saja dgunakan bambu untuk mengambil kelapa atau bambu yang telah digunakan sebagai jemuran kain. Dulu, kalau ada orang meninggal, meratapi orang meninggal pun digunakan irama sampelong:

ondeh nak ei bajalan sonjo kau nak ei (onde berjalan di senja hari anak ei)

umah godang sia nan kamaunyi nak ei (rumah gadang siapa yang akan menghuninya)

Para istri yang ditinggal suami pun, kalau bernyayi akan menggunakan irama itu. Namun, orang sekarang tidak tahu lagi dengan irama tersebut

Di Tolang, apakah ada perempuan yang mahir memainkan sampelong?

Dulu ada, sekarang tidak. Untuk main biasa, bukan untuk guna-guna.

Dalam penampilan, bisakah sampelong digabung dengan alat musik lain?

Hanya bisa dengan gendang dan biasanya pada lagu-lau yang berirama gembira. Bisa juga dalam menyampaikan hikayat atau kaba. Gendang yang dipakai adalah rebana. Irama lagu-lagu sampelong dapat diketogorikan:

Sedih:

· Kubang Balambak

· Mudiak Manguih

· Lobuah Lengkok

· Maalau Kobau

· Batu Putiah

· Mudiak Likih

Gembira:

· Ontak Tabuang

· Kayu Dalok

Khusus:

· Umbuik Mudo – untuk simbabau dan sjundai

· Puti Talayang – untuk membawakan kaba

Irama Umbuik Mudo:

· tuan tun kotik dongkak

· Tun kotik nan panjang ongok

· Langkah nan batingkah-tingkah

· Balari nan batingkah duo

· Obuak nan panjang di balakang

· Obuak tagerai di kuduak o ….

· Dimano lobuah nan golong

· Tuan lah balari di situ

· Dima pasea nan rami tuan lah tibo di situ

· Hancua luluah di batang agam

Irama Puti Talayang:

Ado kapado suatu hari, Puti Talayang, inyo bakato bakeh kakaknyo, nan banamo si Ganjo Erah, “ Oi kakak si Ganjo Erah kak ei…., poi lah kito poi mandi, etan ka sumua tigo rono.”

Mandonga kato nan baitu, jadi manyauik e Ganjo erah, “ Adiak e Puti Talayang……”

Untuk kaba, iramanya itu saja. Orang akan terfokus pada cerita bukan pada irama. Tidak pakai alat musik pun iramanya tetap seperti itu.

Bagamana tanggapan masyarakat?

Kini, kesenian ini tidak begitu diminati. Sudah menjadi barang langka. Tidak ada minat dari masyarakat untuk mengembangkan atau belajar. Dapat dikatakan minat mereka sudah mati.

Apakah kesenian ini pernah diajarkan di sekolah?

Bagiaman mana mau mengajarkannya kepada anak SD? Kurikulum untuk itu tidak ada. Waktu yang disediakan untuk kesenian hanya dua jam untuk empat mata pelajaran: seni suara, rupa, tari, dan keterampilan. Mengajar anak-anak kesenian tradisional tidak sulit. Tangga nada sampelong la do re mi. Daerah di Nusantara yang mempunyai kemiripan dengan sampelong adalah: Dayak, Toraja, Tengger, Kubu, dan Semang (Malaysia). Nada ini dipengaurhi oleh agama Budha. Setelah Islam masuk, ia tetap tinggal di daerah pedalaman. Di Muangthai saya menumukan juga irama yang sama. Secara tidak sengaja saya pernah mendengar di radio sana, sebuah lagu yang diiringi dengan irama seperti ini.

Adakah perbedaan tangga nada sampelong dengan laras pelog dan selendro?

Nada sampelong mirip dengan selendro, cuma ada dua nada yang turun seperempat (1/4). Tangga nadanya sol la do re mi, la dan mi turun seperempat. Selendro jarak antara la dan do rapat, sampelong jarang karena la turu dan mi turun. Pelog: do mi fa sol si du, jauh sekali bedanya dengan sampelong. Irama Pasaman diatonik, dibandingkan diatonik, sampelong tidak memiliki nada si dan fa.

Sejak kapan Anda menyukai musik?

Kalau suka dengan musik, mungkin sejak dari lahir. Mengapa? Masih kuat dalam ingatan saya, mungkin masih berumur setahun, Pobo (kakaknya) saja mungkin tidak ingat, ketika Etek saya kawin dengan Mak Kutea, saya tidur menelentang, bantal di sisi kiri, kain di sisi kanan, sebuah gramofon didupkan:

tong kak-tong kak tum, tong kak- ton kak tum (menirukan bunyi rebana dipukul)

talipuak layua nan dondam, lai anak rang Tolang (menyanyi).

Penyanyinya Kinah dan Naimah. Saya sudah ingat walau umur saya masih satu tahun. Mulai main musik tradisional umur 5 (lima) atau 6 (enam) tahun. Pada waktu itu tangan saya dituntun oleh almarhum Andek (nenek).

Siapa yang mengajar Anda pertama sekali?

Mandiang Andek, ibu dari ibu.

Kalau dari orang tua?

Kami sekeluarga boleh dikatakan keluarga pemusik: Pak Etek tukang dikia, Ibu pemain gambus, Etek tukang gambus, kakek pemain talempong, nenek pemain talompok, bapak pemain biola. Akibatnya, musik bagi kami bukanlah sesuatu yang asing.

Apa alat musik yang bisa Anda mainkan?

Alat tradisonal yang saya kuasai adalah talempong, Gendang. Alat tiup krang dikuasai, namun kalau gendang, jenis apa pun, bisa saya mainkan. Seni tradisional saya bisa memainkan akordion, harmonium, dan pianika.

Bagaimana tanggapan Anda terhadap musik Minangkabau sekarang?

Musik Minangkabau saat ini: pencipta melahirkan musik yang bagus, namun selera penikmat bukan ingin musik bagus, tetapi ingin goyangnya bagus. Akibatnya lagu sedih dimainkan dengn musik gembira. Jika lagu Zalmon yang dinyanyikan, kita yang mendengar tidak merasakan kepedihan yang ada dalam lagu tersebut. Jadi sasaran yang diinginkan pencipta tidak tercapai. Itu yang menyebab lagu-lagu tersebut tidak bertahan. Lain halnya dengan lagu Minangkabau dulu. Lagu tari payuang misalnya, tidak pernah berubah.Makin diolah makin bagus.

Anda bisa membaca not balok, sedangkan penusik tradisi tidak ada yang bisa…

Anda jangan marah kepada saya. ASKI (sekarang STSI) tidak bisa mengolah not balok. Sekolah apa itu (nada bicaranya tinggi). Mestinya semuanya dengan not: talempong dengan not, beduk saja bisa dibuat not baloknya. Tamatan ASKI dikasih not balok, tidak bisa baca. Akademi apa namanya yang seperti itu. Tamatan akademi musik tapi tidak bisa membaca not balok.

Dengan siapa Anda pertama belajar not balok?

Pertama sekali dengan Syahril, di Koto Kociek, anak mamak saya. Setelah mulai bisa, saya melanjutkannya sendiri. Kemudian berlanjut ketika saya bertemu dengan Nizam, Pak Cap (Yusaf Rachman-red), dan beberapa orang lain.

Mengapa Anda merasa perlu belajar not balok?

Agar mudah menerima dan memberikan musik. Apa saja yang didengar saya bisa menyimpan dalam bentuk not balok, walaupun yang didengar itu hanya suara gendang misalnya. Kalau tidak bisa not balok tidak bisa menuliskan bagaima bunyi gendang, misanya: tum tak tumtak-tak tum, tak tum tak-tak tum. Bagaimana menuliskan bunyi seperti itu kalau tidak pakai not balok. Kalau dengan not angka tidak akan bisa.

Selama ini kita diperbodoh oleh si Panjang Hidung, Belanda. Mereka yang mengajar kita not angka sehingga buta dengan not balok. Di luar negeri tak satu pun orang yang memakai not angka. Orang Amerika memakai not balok ditambah kode untuk motif. Dengan demikian not balok amerika sangat fleksibel. Jika dipakai untuk vokal pakai kode vokal, untuk gendang pakai kode gendang, dst.

Dengan not balok kita cepat dapat memainkan suatu alat dan cepat menentukan tinggi rendahnya sebuah nada.

Mengenai pendidikan musik di sekolah, apakah kurikulum musik kita yang salah?

Tidak. Dalam kurikulum 75, not angka hampir tidak diajarkan lagi. Namun, dalam pelaksanaannya not angka masih diajarkan. Selain itu, penerbit buku. Mereka tidak paham dengan musik tapi menulis buku musik, yang ditulis bukan not balok tapi not angka.

Guru pun mencampurkan pengajaran not angka dengan not balok. Maksud kurikulum adalah bahwa angka hanya dipakai menandai nomor jari, bukan untuk dibaca.

Bisakah orang yang sama sekali tidak mengenal not angka bisa belajar not balok?

Bisa, bahkan orang yang buta dengan angka pun bisa. Kalau sudah kenal motif kemana saja bisa: untuk vokal beri kode vokal, untuk gendang beri dum dan tak. Persoalan lain adalah, ada nilai yang tidak sama antara not balok dengan not angka. Kalau diberikan keduanya kan anak didik jadi bingung. Nilai titik pada not angka sama dengan nilai not itu sedangkan pada not balok titik nilainya setengah.

Menurut anda adakah kaitan antara musik dengan menyikapi hidup?

Banyak. Main dalam suatu kelompok misalnya, kita harus menjaga kebersamaan, bagaimana kita terangkat secara bersama. Ini akan mengurangi kalau tidak sama sekali menghilangkan sikap egois. Begitulah kita dalam bernasyarakat.

Kemudian disiplin. Kita harus taat aturan. Ketinggalan sedikit saja, nada akan menjadi sumbang. Ktukan harus pas, tidak boleh lebih atau kurang.

Dalam disiplin ini, berapa ketukan kesalahan yang bisa ditolerir?

Tidak dapat ditolerir seperseribu ketukan pun.

Anda bisa akordion, pianika, keduanya bukan alat musik Minangkabau? Mengapa Anda mau memainkannya? Adakah pengaruh musik tersebut ke musik tradisi Minangkabau?

Ada. Akordion sudah lama di pakai dalam musik-musik tradisi Minangkabau. Gamad dan gambus memakai akordeon. Akordeon bukan lagi alat musik modern tapi semi modern atau atau semi tradisi di Minangkabau. Akordeon banyak membawa musik-musik bernafaskan Islam. Lagu-lagu kasidah dan gambus tidak bisa dibawakan dengan Saluang.

Kalau belajar piano Anda mau?

Tidak. Untuk apa saya belajar piano? Alat ini tidak bisa digunakan untuk musik tradisi. Lagi, karena tangan saya sudah bisa dengan tradisi, tidak lentur lagi untuk bisa memainkan piano. Susunan talempong saya agak aneh, nada tinggi terletak di tengah, sedangkan piano, nada rendah di kiri dan nada tinggi di kanan. Susunan nada talempong saya: do mi sol si du la fa re sedangkan nada piano do re mi fa sol la si du.

Susunan nada talompong seperti itu memungkinkan saya dapat memainkan melodi dengan cepat. Grup lain sekarang sudah banyak yang menggunakan susunan talompong seperti itu.

Siapa saja yang pernah belajar dengan Anda?

Kalau di kampung, ya anak-anak di kampung saya, guru-guru di Padang. Orang asing juga ada, ada orang Amerika sekarang kawin dengan orang Yogyakarta dan tinggal di sana dan David dari Australia.

Di mana saja Anda pernah tampil?

Di Indonesia misalnya, di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) beberapa kali, di Taman Ismail Marzuki (TIM) beberapa kali, dan di Surabaya. Di luar negeri, misalnya di Malaysia 9 (sembilan) kali, di Eropa 5 kali: Belanda, Yunani, Jerman, dan Spanyol. Di Asia selain Malaysia, pernah tampil Brunei, Singapura, dan Jepang.

Anda mengatakan bahwa sampelong adalah peninggalan Budha. Ada indikasi lain, selain di musik yang dapat dikatakan sebagai peninggalan Budha?

Ada. Banyak sekali. Contohnya: tidak sah berdoa kalau tidak membakar kemenyan; kalau orang meninggal harus diperaingati 3 hari, 7 hari, 21 hari, sampai 100 hari; percaya kepada tempat-tempat sakti; takut terhadap pohon-pohon besar; adanya nama negeri seperti Biaro; mantra-mantra yang digunakan.

Berkaitan dengan mantra ini, saya masih ingat antra yang sering dibaca nenek saya:

handu sonsang, Quran sonsang, barih isilam, manuriuh katarayo
datang ongkau dari aua bose, pulang ongkau ka aua bosea
datang onkau dari baringin sati pulang ongkau ka baringin sati
kalau ongkau indak poi, kau konai sumpah dek Bataro Guru

Siapa itu Bataro Guru?

Hal lain dapat pula dilihat pada orang yang sedang piturunan (kesurupan). Biasanya mereka menggigau seperti bernyanyi:

urang gunuang

urang gunuang

urang gunuang

urang gunuang

nan diam di Piobang

nan basarang di katapian godang

kami lah tibo pulo

(dilagukan)

Nadanya kan si la do re mi, itu Budha. Padahal, orang yang kena pituruan ini sehari-seharinya tidak bisa sama sekali menyanyi. Kalau di suruh ulang, dia tidak bisa mengulangnya lagi. (Abel Tasman dan Almarhum Yusriwal)


No comments:

Post a Comment